Penafsiran Kurban serta Aqiqah yang Harus Umat Islam Ketahui

“ Sal, apa sih kelainannya penafsiran kurban serta aqiqah? Kan dua- duanya bersama menyembelih hewan. Dapat dirapel kan jika misal calon anakku lahir saat sebelum Idul Adha?” timpal Reza kepada Faisal, dikala lagi memfotokopi dokumen.

“ Beda sih, Za. Kayaknya tidak dapat disamakan pengertiannya.”

Reza serta Faisal telah mulai masuk lagi ke kantor dengan pembagian jam kerja yang bergantian dengan karyawan selainnya. Pastinya wajah mereka dilengkapi masker serta faceshield. Faisal mematikan mesin fotokopi.

“ Memanglah apa kelainannya Sal?” HUKUM AQIQAH

“ Secara penafsiran kurban serta aqiqah itu beda banget. Nih, aku jelaskan.”

5 menit lagi jam rehat, Reza mengambil sofa, didekatkannya ke meja kerja Faisal. Mengambil posisi buat menyimak uraian Faisal.

Penafsiran Kurban serta Aqiqah yang Harus Diketahui

Kurban serta aqiqah mempunyai kesamaan, ialah bersama lewat proses menyembelih hewan. Keduanya pula mempunyai hukum sunnah muakkad. Tetapi, terdapat perbandingan penafsiran kurban serta aqiqah yang harus umat Islam tahu..

Terdapat bermacam pendekatan yang dapat kita telusuri dari penafsiran kurban serta Aqiqah. Awal, kita amati dahulu dari pendekatan bahasa. Asal mula kata kurban serta aqiqah mempunyai penafsiran yang berbeda Aqiqah murah Jakarta .

Kurban berasal dari kata ari qariba- yaqrabu qurbanan wa wirbanan. Mempunyai makna“ dekat”, serta maknanya mempunyai tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Melaksanakan perintah Allah. Semacam cerita Nabi Ibrahim, demi patuh melaksanakan perintah Allah, rela mengurbankan anaknya Nabi Ismail. Tetapi setelah itu badan Nabi Ismail ditukar dengan domba, oleh Allah SWT.

Kata kurban pula berkaitan dengan kata“ udhiyyah”, ialah wujud jamak dari“ dhaniyyah”. Berasal dari kata“ dhaha”, yang mempunyai makna“ waktu dhuha”. Perihal ini berkaitan dengan waktu penyembelihan kurban, dicoba pada dikala waktu dhuha, sehabis shalat Ied.

Sebaliknya penafsiran aqiqah lewat pendekatan bahasa, ialah mempunyai makna“ memotong”. Asal katanya merupakan aqqa- yauqqu- aqqan. Bagi para ulama, sebutan“ memotong” mempunyai banyak arti. Dapat bermakna“ memotong” ataupun“ menyembelih”. Memotong rambut balita yang baru lahir, serta menyembelih hewan. Bagi Abut Ubaid, penafsiran aqiqah ialah memotong rambut yang terdapat di kepala balita.

Bersumber pada sebutan, aqiqah mempunyai arti pemotongan ataupun penyembelihan hewan, dalam rangka bersyukur kepada Allah, sebab kelahiran anak( wanita ataupun pria). Syukuran aqiqah diiringi dengan pemotongan sebagian rambut balita.

Sejarah Dan Dalil Kurban serta Aqiqah

Penafsiran kurban serta aqiqah pula bisa dilihat dari sisi sejarah dan dalilnya. Gimana sejarah yang melatarbelakangi sesuatu hukum Islam, dan apa saja dalil pendukungnya. Dengan mengenali sejarah, kita jadi bisa menguasai kalau kurban serta aqiqah mempunyai penafsiran yang berbeda.

Sejarah serta Dalil Kurban

Hari raya kurban mempunyai latar balik kejadian tentang perjuangan Nabi Ibrahim yang sudah lama tidak mempunyai anak. Tetapi, sehabis Allah mengaruniai Nabi Ibrahim seseorang anak, ialah Nabi Ismail, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim buat menyembelih anak pertamanya.

Pasti terdapat rasa bingung yang terbesit dalam diri Nabi Ibrahim, sebab sepanjang ini sudah menantikan seseorang anak, tetapi ia wajib mengurbankannya. Menyembelih leher anak sendiri. Kegalauan Nabi Ibrahim dijawab oleh Nabi Ismail dalam wujud sokongan, kalau dirinya ikhlas buat disembelih demi taat kepada Allah.

Hingga tatkala anak itu hingga( pada usia mampu) berupaya bersama- sama Ibrahim, Ibrahim mengatakan:” Hai anakku sebetulnya saya memandang dalam mimpi kalau saya menyembelihmu. Hingga fikirkanlah apa pendapatmu!” Dia menanggapi:” Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kalian hendak mendapatiku tercantum orang- orang yang tabah.”( QS Ash Shaaffaat ayat 102)

Dikala proses penyembelihan dilaksanakan, serta Nabi Ibrahim hendak menggoreskan belatinya, Allah mengubah badan Nabi Ismail dengan seekor domba. Sehingga, Nabi Ismail tidak jadi disembelih. Nabi Ibrahim sangat bersyukur, serta terus menjadi mendekatkan diri kepada Allah. Kejadian ini dirayakan tiap tahun, jadi perintah di dalam Al- Quran, supaya manusia tetap bersyukur serta ingat buat melaksanakan perintah Allah.

Penafsiran Kurban serta Aqiqah yang Harus Umat Islam Ketahui

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *